May 24 2008
Menanti Terbitnya Sang Mentari
Rasa dingin masih menyelimuti ketika kegelapan hadir, seolah tak mau menunggu akan kata "aku masih ingin bersamamu". Tertelan oleh untaian kekuatan alam yang tak mungkin ditandingi. Bagaimana aku akan bertahan dalam kegelapan ini dengan apa pula aku harus menghangatkan rasa yang membekukan setiap persendianku. Terhempas dan terkulai akan sebuah kenyataan yang tak mungkin aku lawan.
Teriakan, sanggahan, umpatan takkan berarti apa - apa. Ratapan, keluhan yang memohon iba pernah juga terlempar dari mulut ini. tapi semua sia - sia hanya kebisuan yang terus berlalu. Aku kesini untuk menemuimu menggantungkan sebuah harapan besar dalam perjalanan hidupku. Aku telah meninggalkan segala kesenangan hidup ini demi mendapatkan pelukan hangatmu. Segala syarat yang kau beri akan ku tunaikan, semua permintaanmu akan ku kabulkan, semua inginmu akan ku wujudkan asalkan kau mau untuk menerimaku…
Kenapa kau diam.. Membisu.. dan tak memperdulikanku.. Sirnah semua harapan ini dalam kebisuan diiringi kebisuan yang terus menyelimuti keseharianku… biarlah aku cari mentari lain.. yang lebih mau peduli.. Tapi dimana ? yang ku tahu hanya ada satu mentari yang selalu setia menerangi hari - hari ku dan semua manusia yang ada dibumi.
Aku mulai merasakan akan sebuah ketergantungan pelindung dari kegelapan. Aku harus jujur bahwa sinar mentari akan memberikan petunjuk dengan sinar terangnya. Aku terlalu sombong dan angkuh dengan kelemahanku. Disisi lain aku mulai muak dengan ketidak pedulian atau kata hambar yang menggema. Tak akan lari aku dari setiap kenyataan walau irisan hati mulai tercerai berai. Ketika aku putuskan untuk lari pun aku tak akan melakukannya dalam kegelapan ini.
Sekarang hanya diam dengan ribuan ratapan, cacian, makian, dan penyesalan akan kebodohan dan semua kesalahan yang aku perbuat. Tak ada yang paling sempurna dalam hidupku. kecuali kematian yang tak pernah aku harapkan kehadirannya. Aku tak dapat sembunyi dan lari dari kesempurnaannya. Sujudku, ratapan doaku, permohonanku hanya untuk keselamatanku kini dan kelak.
Kemerdekaan yang aku miliki hanyalah penjara - penjara semu yang selalu memenjarakan setiap kebebasan yang aku pikir adalah sebuah kemerdekaan. Aku mesti mau melihat dan paham akan setiap kesempurnaan diri ini hanyalah relatif. Sekali lagi aku ingin mengingatnya terus bahwa Kesempurnaan yang mutlak aku miliki adalah kematian. Yang sama sekali tidak aku harapkan. itu pun berlaku untuk semua manusia dimuka bumi ini.
Kemerlap bintang dan terangnya bulan akan menemani keberadaanku, tapi tak akan cukup menghangatkanku. Aku harus sabar untuk menanti terbitnya sang mentari.
…
